BANJARMASIN (CNC)– Kisah pilu menyelimuti keluarga Lisna (29), seorang guru honorer SDN Tanjung Pagar 3, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia meninggal dunia pada Sabtu (27/9/2026) malam setelah mengalami sesak napas hebat di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut.

Dikutip dari Kompas, Lisna diketahui memiliki riwayat penyakit asma yang belakangan semakin sering kambuh. Kondisi kesehatannya disebut memburuk seiring dengan kabut asap yang melanda daerah tempat tinggalnya.

Setiap hari, Lisna harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit untuk menuju sekolah. Dalam perjalanan tersebut, ia melewati jalanan yang dipenuhi asap. Kondisi itu membuat aktivitasnya sebagai tenaga pendidik semakin berat. Bahkan, ia beberapa kali terpaksa meminta izin tidak mengajar karena kondisi kesehatannya terganggu.

Pada malam sebelum meninggal dunia, sekitar pukul 21.00 Wita, Lisna kembali mengeluhkan sesak di bagian dada. Keluarganya berusaha memberikan pertolongan dengan peralatan yang tersedia.

Sang ibu, Marhamah (53), berupaya memberikan bantuan oksigen untuk membantu Lisna bernapas. Sementara itu, ayahnya berusaha mencari tambahan oksigen sekaligus kendaraan agar putrinya bisa segera dibawa ke rumah sakit.

Namun, kondisi Lisna tak kunjung membaik. Di tengah perjuangannya melawan sesak napas, ia sempat memeluk sang ibu dan menyampaikan pesan yang menyayat hati.

"Ma, bilang sama ayah dan kakak, tolong jagakan anak saya," demikian pesan terakhir Lisna kepada ibunya.

Lisna akhirnya meninggal dunia ketika keluarganya masih berupaya mendapatkan pertolongan medis.

Kepergian Lisna meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama putri semata wayangnya yang baru berusia lima tahun. Anak tersebut kini harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran sang ibu yang selama ini mendampinginya.

Kesedihan itu semakin terasa ketika sang anak beberapa kali menangis sendirian karena merindukan ibunya.

Kisah Lisna menjadi potret pilu tentang perjuangan seorang tenaga pendidik yang tetap menjalankan tugasnya di tengah gangguan kesehatan dan kondisi lingkungan yang tidak bersahabat. Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, khususnya bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma.

Meski demikian, penyebab medis pasti meninggalnya Lisna perlu merujuk pada keterangan tenaga medis atau hasil pemeriksaan yang berwenang. Riwayat asma dan paparan kabut asap merupakan faktor yang perlu diperhatikan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kabut asap menjadi penyebab langsung kematiannya.**


Share To:

Redaksi

Post A Comment: