JAKARTA - Ketegangan diplomatik dan isu keamanan menyertai agenda lawatan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat (AS) pada pengujung Juli 2026. Alih-alih berangkat secara terbuka, rombongan pemerintah bertolak secara senyap dari Pangkalan Udara Nevatim di gurun Negev untuk menghindari potensi serangan yang diyakini bersumber dari Iran.
Pihak Shin Bet selaku badan keamanan dalam negeri memberikan rekomendasi pengetatan setelah menerima informasi intelijen. Imbasnya, jadwal penerbangan disembunyikan dan akses media massa ke dalam pesawat kepresidenan "Wing of Zion" ditutup total.
Melewati Zona Yurisdiksi ICC
Di luar isu ancaman Iran, perjalanan ini disorot dari aspek legalitas internasional. Berdasarkan pantauan publik di situs Flightradar24, pesawat bernomor 4X-ISR lepas landas pukul 12.57 waktu setempat dan terpantau melintasi koridor udara Yunani, Italia, serta Prancis.
Ketiga negara Eropa tersebut terikat dengan Statuta Roma sebagai anggota Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Di saat yang sama, ICC telah menetapkan surat perintah penangkapan resmi untuk Netanyahu sejak November 2024 terkait dugaan pelanggaran hukum kemanusiaan yang menewaskan lebih dari 73.350 penduduk Palestina sejak Oktober 2023.
Meski pesawat melintas di wilayah kedaulatannya, negara-negara anggota ICC tersebut tidak melakukan langkah pencegatan hukum. Mewakili suara institusi, juru bicara Komisi Eropa Anwar Al-Announi menanggapi situasi tersebut dengan menggarisbawahi komitmen lembaga.
"Kami, sebagai Uni Eropa, mendukung Mahkamah Pidana Internasional dan prinsip-prinsip yang tercantum dalam Statuta Roma," terangnya tanpa merinci tindak lanjut spesifik.
Pertemuan Bilateral Bersama Trump
Setibanya di daratan AS, keselamatan hukum Netanyahu dijamin secara terbuka oleh Presiden Donald Trump. Sehari sebelum kedatangan tamunya, Trump mengunggah sikap resminya ke publik.
"Benjamin Netanyahu tidak akan ditangkap, dengan cara apa pun, selama berada di Amerika Serikat," tulisnya, Senin (20/7/2026).
Dalam pertemuan tatap muka di Gedung Putih, Trump dan Netanyahu mengevaluasi dinamika keamanan kawasan, ancaman dari Iran yang menyebabkan pengamanan ekstra, serta strategi militer di Gaza. Netanyahu juga menggunakan lawatan ini untuk menemui kolega politiknya di AS, termasuk hadir dalam acara penghormatan untuk mendiang Senator Lindsey Graham, salah satu pendorong utama bantuan luar negeri AS untuk Israel. ***

Post A Comment: